Sabtu, 25 Oktober 2014

JAKARTA TERLAMBAT MILIKI MRT

Kemacetan lalu lintas di kota metropolitan seperti Jakarta semakin serius. Setidaknya 1.000 kendaraan bermotor baru bertambah setiap hari, sedangkan pertumbuhan jalan kurang dari 1persen per tahun di kota ini. "Jakarta itu sudah bukan terlambat lagi, melainkan sangat terlambat.Dengan sumber daya yang ada, kemudian negara ini lebih kaya, saya sebagai orang Indonesia enggak tahu mau diletakkan di mana muka saya."
Dono Boestami Direktur PT MRT Jakarta

PADA 2020 Jakarta diprediksi akan macet total karena jumlah kendaraan pribadi yang tidak terkendali. Belum lagi akibat lain yang ditimbulkan, yaitu polusi udara dan kerugian ekonomi dari biaya bahan bakar yang terbuang serta kesehatan hingga Rp65 triliun per tahun.

Untuk menghadapi ancaman itu, solusi demi solusi dicari, termasuk pengadaan transportasi massal. Meski Jakarta terlambat memiliki moda transportasi massal seperti mass rapid transit (MRT), bukan berarti itu ditiadakan, melainkan justru harus disegerakan. Direktur PT MRT Jakarta Dono Boestami mengatakan Indonesia bahkan bisa tertinggal dari Myanmar jika tidak membangun transportasi massal.

“Kita enggak usah bicara Singapura dan Hong Kong. Jakarta itu sudah bukan terlambat lagi, melainkan sangat terlambat.

Sekarang kota-kota di Myanmar, Vietnam, sudah memulai studistudi, Bangladesh juga. Padahal, biar bagaimanapun, kita jauh le bih kaya daripada Bangladesh.Jadi kalau kita tidak segera membangun, bisa didahului Myanmar, Vietnam, dan Bangladesh. Dengan sumber daya yang ada, dan negara ini lebih kaya, sebagai orang Indonesia, enggak tahu mau diletakkan di mana muka saya,“ kata dia.
Proyek pembangunan jalur MRT pun dimulai. Dalam rencana awal, lintasan sepanjang 15,7 kilometer dengan 13 pemberhentian akan membentang dari Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia.

“Mengapa dipilih selatan utara?
Kami melihat urgensinya.Studinya pun telah dilakukan lebih dari 20 tahun. Ini daerah yang paling padat dan harus segera diatasi. Jika tidak, akan terjadi kemacetan total, mobil di Kota Jakarta sudah tidak bisa jalan. Dari sisi urgensinya, ini memang yang paling padat,“ jelas lulusan Teknik Sipil University of Wisconsin di Platteville, Amerika Serikat itu.

Sejak awal, ujarnya, proyek MRT menghadapi kendala, termasuk regulasi dan administrasi. Demikian juga dengan pembebasan lahan, yang hingga kini belum rampung. Saat ini PT MRT tengah menunggu Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI menyerahkan sejumlah lahan.

“Sebenarnya (lahannya) tidak banyak, hanya ada beberapa titik. Petugas dari Kantor Wali Kota Jakarta Selatan dan dinas pekerjaan umum (PU) sedang bekerja keras untuk menyerahkan lahan-lahan tersebut. Sambil menunggu, ada beberapa pekerjaan yang bisa kita garap,” kata dia.

Bila proyek tersebut terwujud, sebanyak 96 gerbong MRT akan beroperasi melayani masyarakat. Namun, Dono pesimistis kehadiran rangkaian MRT sebanyak itu bisa memecahkan masalah transportasi di Jakarta.

Menurutnya, menyelesaikan kemacetan yang menjadi masalah utama di Jakarta tidak cukup hanya dengan MRT. Itu harus dilihat secara komprehensif dan terintegrasi, termasuk kebijakan-kebijakannya. “Kebijakan-kebijakan lain yang dimaksud di antaranya pemberlakuan electronic road pricing (ERP) dan parking meter. MRT itu hanyalah moda. Enggak bisa hanya MRT yang cuma 16 meter. Kita harus memulai sesuatu yang akan mengubah cara orang ber-travelling lagi,“ tuturnya.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) juga mendukung pengintegrasian halte bus Trans-Jakarta dan MRT. Menurut Dono, hal itu memang harus diputuskan Pemprov DKI, apakah tetap akan mempertahankan keberadaan bus Trans-Jakarta atau tidak.

Bagi PT MRT Jakarta, tambahnya, hal itu bukan masalah.Namun, ia memperkirakan halte bus Trans-Jakarta koridor I (Blok M-Kota) bakal ditiadakan dan armada busnya akan dialihkan untuk koridor lain.“Kami juga tidak ingin kompe tisi, tetapi saling melengkapi.Intinya ada atau tidak ada (bus Trans-Jakarta), enggak apa-apa.Serahkan pada pemerintah pusat,“ kata dia.Asian Games Pada 2018 Indonesia akan menjadi tuan rumah perhelatan bergengsi Asian Games dengan Jakarta sebagai kota utama penyelenggaraan, selain Bandung dan Palembang. Rencana itu juga bertepatan dengan rampungnya penggarapan jalur dan MRT mulai komersial. “Paling tidak pada semester pertama 2018 semua stasiun telah tertutup, jalanan juga sudah rapi.Akan tetapi, kita bisa bantu atau setidaknya proyek ini tidak merepotkan perhelatan itu,“ kata Dono.

Meskipun menargetkan pada 2018 MRT mulai komersial, ia belum dapat memberikan estimasi harga tiket yang diberlakukan kepada penumpang.

“Itu terlalu prematur bila ditanyakan sekarang. Misalnya, saya sebutkan X number, itu adalah angka sekarang. Namun, jangan lupa adanya inflasi dan income yang berubah hingga 2018. Lagi pula, masalah tarif bukan kewenangan kami. PT MRT hanya akan memberikan hitung-hitungan secara ekonomi untuk sustainability perusahaan dan sistem ini ada replacement cost yang harus dihitung, itu kan ada konsultan yang nanti akan membantu kita membuat programnya. Program untuk operation dan maintenance,” jelas dia.

Pihaknya juga tidak masalah seandainya MRT akan digratiskan. “Di awal-awal dulu saya juga ditanya ketika dipanggil Pak Ahok. Waduh itu prematur untuk saya, enggak usah nanyain deh, toh ini kantong kiri kantong kanan kok. Kami kan sepenuhnya BUMD milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” tambahnya.

Meski demikian, PT MRT Jakarta akan memberi masukan jika Pemprov DKI memberlakukan tarif yang tinggi kepada penumpang. “Karena pada akhir tahun mereka bisa menarik dividen. Dividen itu bisa disalurkan lagi untuk apa pun, misalnya pendidikan dan kesehatan. Jadi sebenarnya tergantung objektifnya. Karena strategi tarif itu nanti bisa jadi isu politik. Kalau mau populis, ya digratiskan saja,“ kata dia.Bisnis lain Selain membangun dan mengelola transportasi massal tersebut, PT MRT Jakarta memiliki tugas mengembangkan dan mengelola properti serta bisnis di stasiun dan kawasan sekitarnya. Hal itu diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) No 3 Tahun 2008 dan Perda No 4/2008 tentang Tugas Utama PT MRT Jakarta. Dono optimistis proyek bakal menyerap ribuan pekerja.

Ia juga yakin proyek MRT memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi bisnis lainnya, seperti harga tanah di sekitar stasiun yang kini telah naik 20persen dari sebelumnya.

“Belum lagi dari bisnis reklame, gedung perkantoran, dan apartemen. Cuma kita sekarang belum memikirkan itu. Yang lebih penting ialah membangunnya dahulu. Enggak perlu muluk-muluk karena kalau barangnya enggak ada, percuma juga kan?“ tanyanya.Operasi Dono memperkirakan saat beroperasi, MRT mampu mengangkut hingga 900 ribu penumpang per hari. Namun dipastikan, angkutan massal tersebut tidak akan beroperasi 24 jam.“Mungkin hanya 20 jam. Selepas pukul 00.00 WIB tidak beroperasi,“ kata dia.

Banjir yang kerap melanda Jakarta juga tidak menjadi hal yang membuatnya khawatir.Menurutnya, dalam kondisi banjir MRT tetap mampu beroperasi, sebab disain teknologinya dibuat mampu menghadapi keadaan seperti itu. Entrance (pintu masuk) dibuat lebih tinggi, selter dilengkapi dengan sekat-sekat, pompa, interlocking, dan tanggul pun disiapkan.“Itu sudah menjadi bagian dari detail desain yang dikaji. Semua dihitung dari curah hujan dan water level-nya, semua sudah ada,“ jelas dia.

Dengan teknologi yang teranyar, MRT yang akan beroperasi di Jakarta dijanjikan sangat nyaman. Transportasi canggih tersebut juga tidak memerlukan masinis, sebab semua sudah wireless, diatur communications-based train control (CBTC) untuk menetapkan jarak waktu kedatangan kereta setiap 5 menit sekali.

“Kemudian, dalam bayangan saya, nanti di dalam MRT orang masih bisa berdiri bahkan sambil membaca dengan nyaman,“ tutupnya. Media Indonesia, 24/10/2014, Halaman : 22