Senin, 01 September 2014

Jembatan Selat Sunda Diharap Dilanjutkan

PROYEK pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) dipastikan tidak akan terealisasi dalam waktu dekat.Hal itu karena studi kelayakan yang ditargetkan rampung sebelum pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berakhir tidak akan tercapai. Pemerintahan SBY berharap proyek itu dilanjutkan oleh pemerintahan berikutnya.

Menurut Deputi Menko Perekonomian Bidang Infrastruktur Luky Eko Wuryanto, pemerintah berkukuh agar proyek JSS itu dilanjutkan karena adanya tekanan internasional yang menginginkan pembangunan Jembatan Selat Malaka yang menghubungkan Sumatra-Malaysia. “Kita tidak ingin kemajuan yang sedang berlangsung di Sumatra malah tersedot ke Malaysia,“ terang Luky di kantornya di Jakarta, kemarin.

Namun, lanjut Luky, pembangunan JSS itu mesti dilanjutkan apabila seluruh wilayah di Sumatra telah terintegrasi dengan adanya tol trans-Sumatra. Jika tol itu tidak dibangun, katanya, yang terjadi ialah migrasi dari Sumatra ke Jawa. Luky memastikan pembangunan JSS akan diwariskan kepada pemerintahan Presiden Joko Widodo.“Kami wariskan JSS ke pemerintahan mendatang. Diharapkan ada progres lebih lanjut.“ 132 proyek Pada kesempatan itu, Luky juga menyatakan pemerintah menargetkan melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) 132 proyek MP3EI (Mas Su terplan Percepatan dan Per luasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) hingga akhir tahun ini dengan nilai Rp443,5 triliun.

“Pada kuartal III sampai IV atau Juli-Desember 2014 masih ada 13 proyek yang akan di-groundbreaking,“ ujar Luky yang juga men jabat Sekretaris Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indoensia (KP3EI). Luky juga mengatakan MP3EI akan merayakan ulang tahun ke-3 di Jakarta Convention Centre.

Akan hadir dalam acara yang berlangsung pada 3-5 September itu 50 pemimpin muda berskala nasional. Sebagai puncak acara, SBY akan melakukan telekonferensi ke enam koridor ekonomi MP3EI. Dua proyek di antaranya akan di-groundbreaking, yakni rel ganda kereta api Medan-Bandara Kualanamu (Sumatra Utara) dan kawasan ekowisata Tanjung Ringgit (Lombok Timur).(*/Ire/X-4) Media Indonesia, 27-08-2014, hal 2