Jumat, 26 September 2014

SURAT DARI INCHOEN Merek Mobil dan Emosi Warga Incheon

INCHEON tidak jauh jika dibandingkan dengan Jakarta soal padatnya kendaraan di jalan raya. Meski tidak separah di Jakarta, jalanan kota terbesar ketiga di Korea Selatan itu pun disesaki mobil yang tak jarang menimbulkan kemacetan panjang. Sama seperti di Jakarta, jalanjalan di Incheon menjadi ajang kontestasi pabrikan mobil. Namun, soal merek, ibarat bumi dan langit.Jika di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia mobil-mobil pabrikan Jepang menjadi raja, di Incheon justru sebaliknya. Di kota pesisir barat `Negeri Ginseng' itu, mobil made in Japan amatlah langka.

Selama dua hari menyusuri sejumlah jalan protol di Incheon, saya tak menemukan satu pun mobil buatan Jepang yang melintas. Tak ada Toyota, Honda, Suzuki, atau Daihatsu. Di kota itu, mobil produk dalam negeri Korsel lah yang mendominasi.

Mobil-mobil merek Hyundai dan KIA begitu berkuasa. Mobil-mobil itu pun kebanyakan masih berusia muda dengan tipe-tipe terbaru.Sebut saja Hyundai Santa Fe, Tucson, dan sedan Sonata yang di Indo nesia termasuk mobil kelas atas.

Untuk KIA, amat gampang saya temui tipe Sportage dan Sorento.Ada pula merek Daewoo, tetapi jumlahnya tak terlalu banyak.
Tidak cuma di Incheon sebenarnya mobil Korea begitu berkuasa dan menyingkirkan mobil buatan Jepang yang telah mendunia. Hal yang sama juga terjadi di Seoul dan kota-kota lain di Korea Selatan. Fenomena itu ternyata tak lepas dari sejarah masa lampau yang sampai sekarang menyisakan luka di hati rakyat Korea karena mereka dijajah Jepang sangat lama.

Pada 1910, Jepang menduduki semenanjung Korea hingga 1945.Itulah yang membuat rakyat Korsel, termasuk warga Incheon, menganggap tak layak untuk menggunakan mobil buatan bekas penjajah.

Penjajahan pula yang membuat mereka bangkit untuk bisa menandingi kedigdyaan Jepang dalam hal teknologi. Jawaban itulah yang saya dapatkan dari Produser KBS World Radio Hong Chae-seui, tentang warga Incheon enggan menggunakan mobil buatan Jepang.
“Ini persoalan emosi. Kami pernah dijajah Jepang dan sekarang kami harus bisa bersaing dengan mereka, termasuk soal produk mobil,'' ucapnya di gerbang Asian Main Stadium, kemarin. Perempuan lulusan studi Bahasa Indonesia di salah satu universitas di Seoul itu menuturkan merek mobil mewakili harga diri rakyat dan bangsa Korea. Ia sendiri pengguna mobil KIA dan sama sekali tak berpikir untuk memiliki mobil Jepang.

Sebelum menentukan pilihan, imbuh Hong, biasanya orang Korea mempertimbangkan kualitas dan harga. Namun, ujung-ujungnya tetap saja cenderung menghindar dari mobil besutan Jepang. “Kalau toh harus memilih merek lain, kami biasanya melirik mobil-mobil buatan Eropa atau Amerika Serikat.“

Rakyat Korea memang tak alergi terhadap mobil impor, tetapi sekali lagi asal bukan buatan Jepang. Di Incheon pun, cukup banyak berseliweran mobil produk Eropa dan Amerika Serikat. Sebuat saja Chevrolet, Ford, atau Range Rover.
Begitulah cara rakyat Incheon dengan caranya sendiri telah berusaha mengangkat harkat dan martabat bangsa. (R-3) Media Indonesia, 20/09/2014, halaman 23